| |
Banyak orang mengira Islam adalah sebuah agama. Tetapi yang
benar Islam bukan agama. Islam adalah sebuah geng,
yang pimpinannya bernama Nabi Muhammad SAW. Walau sang pemimpin sudah meninggal
±1400 tahun yang lalu, geng ini masih tetap ada sampai hari ini. Para
pengikutnya tidak rela bila Nabi Muhammad SAW dicela, dikritik, atau pun
sekedar digambar, karena mereka terlalu cinta padanya; mereka menganggap
Nabi Muhammad SAW adalah makhluk setengah dewa, yang begitu sakral,
sangat sempurna dan wajahnya paling ganteng sedunia.
Geng
ini dapat terus eksis karena menyamar sebagai agama. Sang pemimpin
geng mengaku diutus oleh "tuhan" bernama Allah untuk menaklukkan dunia
di bawah pemerintahan Islam. Kita harusnya mengerti, bahwa tidak
mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana mengutus seorang bejat moral dan
penjahat gila, yang isi otaknya cuma seks, harta dan kekuasaan. Di
samping itu, Tuhan adalah Penguasa Alam Semesta, Tuhan tidak perlu
berambisi menaklukkan dunia, sebab Alam Semesta ini memang milik-Nya.
Lalu siapakah gerangan sosok yang ingin menguasai dunia ini, yang dengan
gaya preman dan nafsu haus darahnya menggebu-gebu ingin mengontrol dunia
di bawah 1 kalifah? Tentu saja ini bukan cita-cita Tuhan, melainkan cita-cita
Iblis. Tuhan sudah menguasai dunia ini, jadi untuk apa Dia ingin
menguasainya lagi? Iblis/Setan-lah yang ingin merebut dunia ini. Ya, Islam adalah geng pemuja Setan. Itu
sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman
Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang.
Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa
sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya.
Di
sisi lain, Islam
ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam
bertambah. Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau
orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.
Teror
Geng Islam di
Indonesia (Beberapa di Luar Negeri) dari Waktu ke Waktu
(1962 - 2005)
Selama
1962-2005, Indonesia sudah mencatat puluhan kali ledakan bom terjadi
dalam skala kecil dan besar, setengahnya terjadi di Jakarta. Catatan
dimulai dengan ledakan bom yang terjadi di kompleks Perguruan Cikini
dalam upaya pembunuhan presiden pertama RI, Ir Soekarno, pada
1962. Berikutnya,
11 November 1976: Di Masjid Nurul Iman,
Padang. Pelakunya adalah Timzar Zubil, tokoh yang disebut pemerintah
sebagai Komando Jihad. Tapi, Timzar tidak pernah ditemukan sampai
sekarang.
20 Maret 1978: Sekelompok pemuda melakukan
peledakan di beberapa tempat di Jakarta dengan bom molotov, dan membakar
mobil presiden taksi untuk mengganggu jalannya sidang umum MPR.
14 April 1978: Masjid Istiqlal, Jakarta.
Sampai sekarang, ledakan bom dengan bahan peledak TNT itu tetap jadi
misterius.
4 Oktober 1984: Ledakan bom di BCA, Jalan
Pecenongan, Jakarta Barat. Pelakunya adalah Muhammad Jayadi, anggota
Gerakan Pemuda Ka'bah (anak organisasi Partai Persatuan Pembangunan)
lantaran protes terhadap peristiwa Tanjungpriok 1983. Jayadi yang tidak
dikenal sebagai anggota Gerakan Pemuda Ka'bah kemudian dijatuhi hukuman
penjara 15 tahun setelah mengaku menjadi pelaku peledakan.
Saat bersamaan, juga terjadi ledakan di BCA dan Kompleks Pertokoan
Glodok, Jakarta dengan pelaku Chairul Yunus alias Melta Halim, Tasrif
Tuasikal, Hasnul Arifin yang juga merupakan anggota Gerakan Pemuda
Ka'bah. Mereka dijatuhi hukuman penjara dan dipecat dari keanggotaan
Gerakan Pemuda Ka'bah.
Selain itu, ledakan juga terjadi di BCA Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat
dengan pelaku Edi Ramli, juga anggota Gerakan Pemuda Ka'bah. Siapa
dalang pemboman, sebenarnya masih misterius, tapi Edi dijatuhi hukuman
penjara.
Rentetan kasus peledakan beberapa kantor BCA itu menyeret tokoh-tokoh
Petisi 50, seperti H.M. Sanusi, A.M. Fatwa (keduanya dipenjara,
saksi-saksi mengaku disiksa), dan H.R. Dharsono.
24 Desember 1984: Gedung Seminari Alkitab
Asia Tenggara (SAAT), Jalan Margono, Malang, Jawa Timur. Tidak diketahui
siapa pelakunya.
20 Januari 1985: Candi Borobudur di Jawa
Tengah tak luput dari sasaran ledakan bom. Pelakunya adalah seorang
mubalig, Husein Ali Alhabsy yang juga dilatar-belakangi motif protes
terhadap peristiwa Tanjungpriok 1983. Husein menolak tuduhan atas
keterlibatannya dalam peledakan Borobudur dan menuding Mohammad Jawad,
yang tidak tertangkap, sebagai dalangnya. Pada awalnya, Husein mendapat
ganjaran penjara seumur hidup. Tapi kemudian mendapatkan grasi dari
pemerintahan Habibie pada 23 Maret 1999.
16 Maret 1985: Bus Pemudi Ekspress di
Banyuwangi, Jawa Timur. Pelakunya adalah Abdulkadir Alhasby, anggota
majelis taklim. Kasus ini juga dikaitkan dengan peledakan Candi
Borobudur yang juga memprotes peristiwa Tanjungpriok 1983. Bahan peledak
yang digunakan adalah TNT batangan PE 808/tipe Dahana.
14 Mei 1986: Terjadi hampir bersamaan di
Wisma Metropolitan di Jalan Sudirman, di Hotel President di Jalan
Thmarin dan di Pekan Raya Jakarta. "Brigade AntiImperialis
Internasional“ di Jepang mengaku bertanggung jawab.
Juni 1986: Terjadi serangan roket ke
Kedutaan Amerika, Jepang dan Kanada yang diluncurkan dari kamar 827
Presiden Hotel di Jalan MH. Thamrin.
30 September 1991: Hotel Mini Surabaya.
Pelakunya tidak diketahui. Bahan peledak yang digunakan adalah potassium
-biasa dipakai untuk membom ikan.
Februari 1993: Lantai dua gedung World
Trade Center (WTC), New York, Amerika Serikat.
18 Januari 1998: Rumah Susun Tanah Tinggi,
Jakarta. Walau bom meledak tidak disengaja, Agus Priyono, anggota
Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) -salah satu
jaringan Partai Rakyat Demokrat-, dipenjara tujuh bulan lebih, karena
dianggap mengetahui rencana pemboman tapi tidak melaporkannya ke pihak
berwajib. Kasus ini sempat menyeret nama Sofjan dan Yusuf Wanandi serta
Surya Paloh, yang semuanya membantah terlibat. Tapi, tidak ada dari
tokoh itu yang diajukan ke pengadilan.
20 Februari 1998: Kampung Batik Sari,
Semarang.
7 Agustus 1998: Kedutaan besar Amerika di
Nairobi, Kenya dan di Darus Salam, Tanzania yang disinyalir dilakukan
teroris yang punya hubungan dengan Al-Qaida dan Osama bin Laden.
Peristiwa itu menewaskan 223 orang dan melukai 4.000 orang. Sebagian
besar dari mereka yang terbunuh dan terluka dalam tiga pemboman itu
adalah warga Kenya dan Tanzania.
11 Desember 1998: Atrium Plaza Senen,
Jakarta. Pelaku tertangkap pada akhir 1999, sewaktu terjadi ledakan bom
di Ramayana, Jalan Sabang. VM Rosalin Handayani dan Yan Pieterson
Manusama disangka sebagai pelaku dengan motif usaha dagang. Bahan
peledak berbau belerang.
2 Januari 1999: Toserba Ramayana, Jalan
Sabang, Jakarta Pusat. Pelakunya adalah V.M. Rosalin Handayani dan Yan
Pieterson Manusama, pengusaha yang dilatar-belakangi motif sengketa
pribadi. Bahan peledak bom adalah TNT.
9 Februari 1999: Mal Kelapa Gading,
Jakarta. Siapa pelaku dan apa motif bom yang berbahan peledak TNT itu,
tidak diketahui.
15 April 1999: Plaza Hayam Wuruk, Jakarta
Barat. Pelakunya adalah Ikhwan, Naiman, Edi Taufik, Suhendi, dan Edi
Rohadi, anggota kelompok yang disebut-sebut sebagai Angkatan Mujahidin
Islam Nusantara (AMIN) pimpinan Eddy Ranto. Motif pemboman adalah
kriminal (perampokan). Kelompok AMIN ini juga dituduh meledakkan
Istiqlal. Anehnya, dalam kasus ini, motifnya diputuskan sebagai
kriminal. Bahan peledak ramuan KCl03 (kalium klorat) dan TNT.
19 April 1999: Masjid Istiqlal, Jakarta
Pusat. Pelakunya adalah Eddy Ranto alias Umar, 40 tahun yang juga diduga
sebagai otak perampokan Bank BCA Taman Sari, Jakarta dan peledakan satu
wartel di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta, beberapa pekan sebelumnya.
Sayangnya, kasus ini tetap menjadi misterius, lantaran belum tuntas.
Bahan peledaknya sama dengan kasus Hayam Wuruk. Bahan peledaknya, TNT
(trinitrotoluene) dan KCLO3 (kalium chlorat).
Maret 2000: Depan Hotel Merdeka, Bekasi
yang mengakibatkan dua orang luka-luka.
28 Mei 2000: Gereja Kristen Protestan
Indonesia (GKPI) Medan. Siapa pelaku dan apa motifnya tetap jadi
misterius.
29 Mei 2000: Gereja Katolik di Jalan Pemuda
Medan. Siapa pelaku dan apa motifnya juga masih misterius.
1 Juli 2000: Di Jalan Imam Bonjol, KPU
Jakarta. Kasus peledakan bom ini juga masih belum tuntas
4 Juli 2000: Di kamar kecil kantor
Kejaksaan Agung, Jakarta. Siapa pelaku dan apa motif peledakan bom
berkategori M-1 (Military One) buatan Pindad, itu masih misterius.
Sampai sekarang, kasusnya belum terungkap jelas, padahal polisi sudah
menyebar sketsa wajah yang diduga pelaku peledakan.
Agustus 2000: Kediaman Duta Besar Filipina
untuk Indonesia, di Imam Bonjol, Jakarta. Ledakan bom itu menewaskan dua
staf rumah tangga kediaman serta puluhan orang lainnya mengalami luka
cukup serius. Bom yang dipakai adalah C-4 buatan Amerika Serikat. Pada
19 Oktober 2003, PN Jakarta Pusat menghukum Abdul Jabar bin Ahmad Kandai
selama 20 tahun penjara. Abdul Jabar terbukti bersalah melakukan tindak
pidana secara bersama-sama dengan Fatur Rahman Al- Ghozi dan Edi Setiono
alias Usman, meledakkan bom di rumah Duta Besar Filipina itu. Dirinya
juga dinyatakan terbukti bersalah turut serta melakukan aksi pemboman di
sejumlah Gereja di Jakarta: Gereja Anglikan Menteng Jakarta Pusat dan
Oikumene di Jalan Angkasa Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur. Kedutaan
besar Malaysia untuk Indonesia di Rasuna Said, Jakarta, juga mendapati
ledakan bom. Tapi, tidak menimbulkan korban jiwa.
27 Agustus 2000: Di Medan, satu di bengkel
di depan rumah penduduk di Jalan Bahagia, dan satu lagi di pagar rumah
pendeta J. Sitorus.
September 2000: Bursa Efek Jakarta. Dengan
bahan peledak TNT, ledakan bom menewaskan 10 orang, melukai puluhan
orang dan merusakkan puluhan mobil. Pelakunya adalah Teungku Ismuhadi
yang kemudian dihukum penjara 20 tahun.
13 September 2000: Ledakan dahsyat di
lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. Ledakan ini menelan korban
10 orang tewas, 15 orang luka, serta dua mobil hangus, 20 mobil rusak.
November 2000: Hotel Omni Batavia, Jakarta.
Desember 2000: Di berbagai tempat di
Indonesia saat malam Natal: Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung,
Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, yang
mengakibatkan belasan orang tewas, seratus lebih lainnya luka-luka dan
puluhan mobil rusak. Tercatat hanya 16 dari 31 bom yang meledak. Bahan
peledaknya, TNT yang ditambahkan supreme seal pot dengan wadah plastik
ungu dan diisi 100 gotri.
Januari 2001: Bom rakitan di satu mobil di
Pasar Minggu, Jakarta. Selain itu, Taman Mini Indonesia Indah juga
sempat digegerkan ledakan bom yang dilakukan Elize M. Tuwahatu.
Maret 2001: Rumah Sakit Saint Carolus,
Jakarta. Sementara itu, ledakan bom juga terjadi di jembatan kereta api
Cisadane, Serpong, Tangerang.
April 2001: Di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.
10 Mei 2001: Di bangunan Yayasan
Kesejahteraan Mahasiswa Iskandar Muda, di Jalan Guntur, Jakarta Selatan.
Tiga orang tewas, sebagian bangunan hancur.
Juni 2001: Di kamar kos di kawasan
Pancoran, Jakarta. Berselang hanya dua pekan, di Cikoko, di kawasan
Pancoran juga, ledakan bom kembali terjadi.
Juli 2001: Gereja Santa Anna, Pondok Bambu,
Jakarta. Ledakan mencederai puluhan orang. Hanya sehari berselang,
ledakan bom kembali terjadi di Jalan Semarang, Menteng, Jakarta, dan
melukai satu orang.
Agustus 2001: Plaza Atrium, Senen, Jakarta.
Ledakan melukai enam orang. Kedua pelaku peledakan, Edi Setyono alias
Abbas dan Taufik bin Abdul Halim dihukum hukuman mati oleh PN Jakarta
Pusat.
September 2001: Gedung kembar WTC, New
York, Amerika Serikat. Satu jet komersial menabrak menara utara bangunan
110 lantai antara lantai 80 dan 85. Selang beberapa menit, satu pesawat
komersial lainnya menabrak menara selatan. Diperkirakan, tiga ribu orang
tewas dan 1.000 cedera dalam peristiwa itu. Sebanyak 40.000 orang
bekerja di pusat perdagangan dua gedung itu; lebih dari 150.000 orang
memasuki kompleks itu setiap hari untuk berbisnis atau hanya
jalan-jalan. Dari Dubai, Uni Emirat Arab, dilaporkan, satu kelompok
Palestina menyatakan bertanggung jawab atas serangan pesawat terhadap
WTC itu. Televisi Abu Dhabi melaporkan, pihaknya telah menerima telepon
dari Front Demokratis bagi Pembebasan Palestina (DFLP) di luar negeri
-yang menyatakan bertanggung jawab. Gedung yang diserang itu merupakan
institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di
sana terdapat perwakilan dari pemerintah Thailand, Cile, dan Pantai
Gading, misalnya. Di WTC terdapat 430 perusahaan dari 28 negara.
Serangan bom pesawat juga terjadi terhadap Pentagon, Washington dan
menewaskan 189 orang, termasuk para penumpang pesawat. Sementara itu, 45
orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman
Pennsylvania.
23 September 2001: Lantai parkir Atrium
Plaza, Senen. Ledakan menghancurkan beberapa mobil, walau tidak ada
korban jiwa.
2001: Asrama haji Sudiang, Makassar,
Sulawesi Selatan.
2002: Restoran Kentucky Fried Chicken (KFC)
dan restoran McDonald’s di Sulawesi Selatan.
1 Januari 2002: Di depan rumah makan ayam
Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Seorang pelaku, Hasballah
tewas seketika di tempat kejadian. Bahan peledak yang digunakan yang
digunakan adalah granat manggis K75 buatan Korea.
Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja.
Tidak ada korban jiwa.
18 Januari 2002: Gardu PLN di depan bekas
terminal Cililitan, Jakarta Timur. Sementara itu, di Palu, satu ledakan
juga mengguncang tiga rumah ibadah. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh,
Gereja Pantekosta di Indonesia dan Gereja Kristen Indonesia Sulawesi
Selatan Jemaat Palu rusak akibat bom rakitan.
20 Januari 2002: Fathurrahman al Ghozi,
seorang Warga Negara Indonesia, ditangkap oleh pihak keamanan Filipina.
Lelaki kelahiran Madiun dituduh terlibat dalam pengeboman sebuah stasiun
kereta api di pusat kota Manila di malam Tahun Baru 2002. Filipina
menyatakan, al Ghozi sebagai salah satu anggota sel al Qaidah di Asia
Tenggara.
Maret 2002: Kantor Babinkum, Pulo Gebang,
Jakarta.
Juni 2002: Di depan gedung konsulat
jenderal Amerika Serikat di Karachi, Pakistan yang mengakibatkan delapan
orang tewas.
9 Juni 2002: Di lahan parkir Hotel
Jayakarta dan Diskotik Eksotis, Kota, Jakarta Barat. Pelakunya, Dodi
Prayoko berhasil ditangkap polisi.
1 Juli 2002: Mal Graha Cijantung, Jakarta.
Tujuh orang luka-luka dan tidak ada korban jiwa akibat ledakan itu.
Polisi menangkap lima tersangka yang diyakini terkait dengan Gerakan
Aceh Merdeka yakni, Ramli. M. Nur, Mudawali, Muhamad Hasan Irsyadi dan
Syahrul. Bom rakitan jenis low explosive itu terdiri dari campuran
belerang, alumunium powder, potasium klorat, baterai, dan serpihan besi
atau paku.
Oktober 2002: Bandung Supermall dan Istana
Plaza, Bandung.
12 Oktober 2002: Tiga ledakan bom
mengguncang Bali. Ledakan pertama dan kedua mengguncang kawasan di Jalan
Legian, Kuta. Sedangkan ledakan lainnya terjadi di dekat kantor konsulat
AS, Denpasar. Di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan meledak di pintu
gerbang masuk kantor Konjen Filipina. Tidak ada korban jiwa.
Ledakan di Jalan Legian, mengakibatkan setidaknya 187 tewas dan 400-an
lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan parah dalam
radius 100 meter dari pusat ledakan. Polisi mengidentifikasikan bahwa
ledakan berasal dari bom mobil yang diletakkan dalam Mitsubishi L300.
Sebagai peracik bahan-bahan kimia bahan peledak, Sarjiyo alias Sawad,
dihukum seumur hidup oleh majelis hakim PN Denpasar yang juga menghukum
Saad alias Mat Ucang 20 tahun penjara lantaran menyembunyikan Mukhlas
alias Ali Gufron saat dalam pelarian. Hernianto dihukum 12 tahun
penjara. Selain itu, kelompok Kalimantan, seperti Mubarok dihukum seumur
hidup, Sukastopo tiga tahun, Imam Susanto empat tahun delapan bulan,
Mujarot lima tahun, Hamzah Baya enam tahun, Eko Hadi P empat tahun enam
bulan, Puriyanto empat tahun enam bulan, Firmansyah empat tahun, Syamsul
Arifin tiga tahun penjara, Sofyan Hadi enam tahun, Sirojul Munir lima
tahun, Sukastopo tiga tahun, Muhammad Yunus enam tahun.
Sementara itu, Ali Imron alias Ale -adik kandung Amrozi, dihukum seumur
hidup. Imam Samudra dihukum hukuman mati lantaran secara bersama-sama
dengan anggota kelompoknya melakukan aksi pemboman itu; secara
bersama-sama menyiapkan dana untuk membiayai bom Bali. Ini berkaitan
dengan perampokan toko emas 'Elita' di Serang, Banten, yang dananya
digunakan untuk biaya bom Bali. Diantaranya, Rp. 20 juta yang diberikan
kepada Amrozi untuk membeli bahan-bahan peledak, serta tambahan biaya
membeli mobil Mitsubishi L-300; aktifitasnya sebagai tokoh penting dalam
kasus bom Malam Natal di empat gereja di Batam 24 Desember 2000: Gereja
Pante Kosta Pelita, Gereja GKPS Sei Panas, Gereja Betani May Mart, serta
Gereja Beato Damian, di kawasan Bengkong Green; secara bersama-sama dan
bersekutu atau masing-masing bertindak untuk dirinya sendiri dengan
sengaja membakar atau menjadikan letusan yang dapat mendatangkan bahaya
umum bagi barang. Dalam peristiwa bom Batam, selain merusak gereja, juga
menimbulkan korban manusia, 26 luka berat, serta 3 orang luka ringan
Di Manado, pada saat yang hampir bersamaan juga terjadi ledakan di depan
kantor konsulat Filipina di Jalan Tikala. Pada peristiwa yang tidak
menelan korban jiwa itu, polisi menangkap dua pelaku pemboman: Otje dan
Idris.
5 Desember 2002: Mal Ratu Indah Makassar
pada malam Idul Fitri. Tiga orang tewas dalam peristiwa itu. Enam belas
orang ditetapkan sebagai tersangka, diantaranya, Agung Abdul Hamid,
Mukhtar Daeng Lau, Usman, Masnur, Azhar Daeng Salam, Ilham, Hizbullah
Rasyid, Dahlan, Lukman, Suryadi, Abdul Hamid, Iwal, Mirzal, Itang,
Khaerul, dan Kahar Mustafa. Dua belas orang telah berhasil ditangkap
polisi, empat orang lainnya yang masih buron adalah Agung Abdul Hamid,
Dahlan, Mirzal dan Hizbullah Rasyid.
Januari 2003: Pangkalan bajaj di Jalan
Jembatan Besi Raya Gang I, Tambora, Jakarta. Ledakan berasal dari bom
Molotov yang dilemparkan ke pangkalan bajaj yang mengakibatkan sebuah
bajaj terbakar. Bom itu terbuat dari botol bir isi bensin dan sumbu. Tak
ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Sementara itu, ledakan bom rakitan
terjadi dan mengenai dua polisi di jembatan besi Jorong Silawai,
Kecamatan Airbangis, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
14 Januari 2003 : Ambon.
3 Februari 2003: Wisma Bhayangkari Markas
Besar Kepolisian Republik Indonesia. Ledakan berasal dari sebuah bom
rakitan yang dibuat dari pipa paralon sepanjang 11 cm dengan diameter 16
cm, ditutup dengan lempengan baja yang dilapisi dengan semen. Walau
berkekuatan rendah, ledakan merusakan satu mobil dan menghancurkan
bagian bagunan yang ada di Wisma Bhayangkari. Polisi menangkap tersangka
pelaku pemboman, Ajun Komisaris Polisi Anang Sumpena. Tidak ada korban
jiwa akibat ledakan itu.
1 April 2003: Bom mengguncang Medan. Kali
ini terjadi lagi di jalur pipa milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Diperkirakan bom meledak pukul 03.00 WIB. Tak ada korban jiwa.
24 April 2003: Di jembatan Kali Cideng,
belakang kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sasaran kemungkinan
ditujukan ke kantor PBB. Bom rakitan itu terbuat dari besi yang
panjangnya sekitar 33 sentimeter, dengan diameter sekitar 10 sentimeter,
dan ketebalan pipanya sekitar 6,6 milimeter. Ledakan berkekuatan rendah.
Tidak ada korban.
27 April 2003: Terminal 2 Bandara
Soekarno-Hatta. Saat itu, tujuh orang yang merupakan satu keluarga
menjadi korban ledakan. Lima di antaranya dirawat di Rumah Sakit Pantai
Indah Kapuk PIK dan dua lainnya dirawat di RSU Tangerang. Ledakan
berkekuatan rendah. Belum diketahui penyebab dan motif ledakan.
30 Juni 2003 : Di Pasar Aceh, Kota Banda
Aceh. Sementara itu, satu bom lainnya dapat dijinakkan di satu rumah
sakit umum Kota Banda Aceh. Tiga pedagang menderita luka terkena
serpihan bom.
14 Juli 2003: Gedung Dewan Perwakilan
Rakyat. Tidak ada korban jiwa.
10 Juli 2003: Pasar Koronadal, Filipina
Selatan. Ledakan menewaskan tiga orang serta mencederai setidaknya 29
orang.
Juli 2003: Saat konser musik terbuka di
Moskow, Rusia. Bom bunuh diri itu menewaskan 14 orang serta puluhan
terluka.
5 Agustus 2003: Hotel JW Marriott, Jakarta.
Dengan bahan peledak, antar lain berupa CLO3, Almunium Fowder, TNT,
Detanator dan Detonating Cord (sumbu peledak), bom menewaskan 13 orang,
melukai 74 orang dan menghancurkan 22 mobil.
Menurut keterangan tersangka Amran Bin Mansur alias Andi Saputra, bahan
peledak bom menggunakan sisa-sisa bom Malam Natal 2000 yang
diselundupkan dari Fillipina Selatan sebelum 2000. Amran, pria kelahiran
Pontian Johor Malaysia, merupakan anggota Jamaah Islamiyah yang berperan
sebagai penyedia bahan peledak bom Malam Natal 2000. Amran
mendistribusikan bahan peledak ke empat tempat pengeboman: gereja-gereja
di Batam, Pekan Baru (Sumatera), Jawa dan Nusa Tenggara Timur.
Perintah tertinggi pengeboman Malam Natal itu ada di tangan Hambali
alias Encep Nurjaman, pria Cianjur Jawa Barat yang ditangkap di
Ayutthaha Thailand, 2003, oleh aparat intelijen Thailand. Hambali
kemudian menunjuk penanggung-jawab eksekusi di empat tempat itu, dua di
antaranya, Imam Samudera alias Kudama untuk Batam dan Idris alias
Gembrot untuk Pekanbaru. Kepada para penanggung-jawab itulah, Amran
menyerahkan bahan peledak. Selain bom, Amran juga menyerahkan enam
senjata jenis revolver asal Malaysia: tiga untuk Batam dan tiga untuk
Pekanbaru. Selepas itu, Amran kabur ke Malaysia, tapi kembali lagi ke
Indonesia pada 2001. Lewat jalur ilegal, Amran dua kali keluar-masuk:
Batam, Johor Malaysia, Nunukan Kalimantan Timur dan Manado, Sulawesi
Utara.
Selain Amran, ada penyedia dana bernama Jabfar -juga warga Malaysia-
yang berhasil ditangkap tim anti teror Mabes Polri di Desa Grinsing,
Batang, Jawa Tengah, 5 Februari 2004. Jabfar inilah yang menuntun aparat
untuk menangkap Amran.
Baik Amran maupun Jabfar sudah aktif dalam pengeboman di Indonesia sejak
1999. Tapi pada 2001, mereka sudah tidak aktif lagi. Jabfar adalah
pengikut Pondok Pesantren Lukmanul Hakim milik Amir Majelis Mujahidin
Indonesia, Ustadz Abu Bakar Baasyir di Malaysia yang sudah dibubarkan.
Amran dan Jabfar juga bekerja-sama dalam pengeboman Malam Natal 2000.
Tapi selepas tugas, mereka berpisah dan kabur.
Terbukti terlibat dalam persiapan aksi pengeboman Hotel JW Marriott,
Sardona Siliwangi bin Azwar, 23 tahun, dihukum sepuluh tahun penjara
oleh majelis hakim PN Bengkulu. Sardona sendiri saat ini adalah mahasiwa
semester satu Akademi Komputer swasta di Kota Bengkulu. Diperkirakan,
sekitar 4 Januari hingga pelaksanaan pengeboman di Hotel JW Marriott 5
Agustus 2003, dirinya ikut bersama-sama menyimpan bahan peledak yang
dibungkus enam kardus di kediamannya di Jalan Gedang Kilometer 6,5,
Rt.1-Rw.01, nomor 43, Kecamatan Gading Cempaka, Bengkulu. Perbuatan
terdakwa dilakukan bersama-sama dengan Asmar Latin Sani (pelaku bom
bunuh diri), Noor Din Moh Top alias Isa, Dr. Azhari alias bahar, Moh.
Rais alias Indra alias Iskandar alias Ryan Arifin, Toni Togar alias
Indra Warman dan Mohammad Ihsan alias Idris alias Joni Hendrawan alias
Gembrot alias Jo.
7 Agustus 2003: Di Kabupaten Poso, Sulawesi
Tengah. Akibat ledakkan, Bachtiar alias Manto, 20 tahun, yang diduga
kuat sebagai perakit bom itu tewas.
12 September 2003: Di daerah konflik Poso,
Sulawesi Tengah. Ledakan bom mengakibatkan lima warga luka-luka.
8 November 2003: Bom mobil meledak dalam
komplek ekspatriat Arab di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan 17 orang dan
120 warga lainnya luka-luka.
15 November 2003: Di luar sinagoga di
Istanbul, Turki, yang penuh terisi orang. Bom mobil menyebabkan 20 orang
tewas dan 300 lainnya terluka.
20 November 2003: Istanbul, Turki. Bom
bunuh diri menewaskan 27 orang dan 450 lainnya cedera.
5 Desember 2003: Di dekat perbatasan
Rusia-Chechnya. Bom bunuh diri meledakkan kereta api, menewaskan 36
orang dan sekitar 150 orang lainnya cedera.
5 Desember 2003: Makassar, Sulawesi
Selatan. Muhammad Tang alias Ittang (30) yang telah membantu pelarian
otak bom Makassar, Agung Hamid, dihukum tujuh tahun penjara oleh PN
Makassar, Sulawesi Selatan yang juga menghukum Suryadi Mas'ud (31)
delapan tahun penjara. Selain itu, Khaerul alias Herul alias Mato (23)
dihukum tujuh tahun penjara, Kaharuddin Mustafa lima tahun penjara
lantaran ikut membantu dan memberikan kemudahan kepada tersanga Agung
Hamid yang disebut-sebut sebagai otak peledakan. Imal Hamid, 35 tahun,
dihukum enam tahun penjara lantaran menyembunyikan informasi pelaku
tindak pidana terorisme, yaitu sudah tahu adanya bahan peledak berupa
dua karung photasium dan satu karung TNT yang disimpan Agung Hamid
(buron) di rumahnya, di Desa Garessi, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten
Barru. Suriadi SPd, 32 tahun, dihukum tujuh tahun penjara.
9 Desember 2003: Di dekat gedung parlemen
Rusia di Moskow. Akibat bom bunuh diri itu, belasan orang luka berat.
Dua wanita pelaku pemboman ditemukan tewas.
Januari 2004: Di Medan, Sumatera Utara.
Pelakunya adalah penjual mie Aceh dan anggota separatis Gerakan Aceh
Merdeka: Sfd Bin Slm alias Fudin (30) dan AS alias Mamad (24), penduduk
Samlantira dan Kecamatan Tanah, Aceh Utara.
Sementara itu, bom juga meledak di Kafe Samfodo Indah di Kota Palopo,
Sulawesi Selatan dan mengakibatkan empat tewas dan dua orang lagi
mengalami luka-luka. Pelakunya, Arman, Idil, Ahmad Rizal, Jeddi, Benardi
dan Jasmin. Enam orang lainnya yang masih buron adalah Aswandi alias Aco
bin Kasim, Ishak, Nirwan, Kahar dan Agung Hamid. Disinyalir, Agung Hamid
juga tokoh utama peledakan bom di Mal Ratu Indah Makassar, 5 Desember
2002.
11 Maret 2004: Madrid, Spanyol. Ledakan bom
menewaskan 200 orang. Tersangkanya, tiga warga Maroko dan dua asal India
ditangkap, dan diyakini terkait dengan jaringan penjualan dan pemalsuan
telepon seluler dan SIM Card. “Kemungkinan, kelima tersangka memiliki
hubungan dengan kelompok radikal di Maroko,” kata Menteri Dalam Negeri
Spanyol, Angel Acebes.
21 Maret 2004: Rumah milik nyonya Sugeng di
Jalan Bhakti Abri Kampung Sindangrasa, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan
Cimanggis Depok. Ledakan bom rakitan itu tidak memakan korban jiwa dan
kerusakan berarti.
21 Maret 2005: Dua Bom
meledak di Ambon.
8 Juni 2005: Bom Pamulang,
Tangerang 2005, bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan
Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril
alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
1 Oktober 2005: Bom Bali
2005, , bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya
22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan
yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square,
daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
31 Desember 2005: Pemboman
Palu 2005, bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi
Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45
orang.
|
|